Tampilkan postingan dengan label korupsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label korupsi. Tampilkan semua postingan

Tak Ada Judul yang Tepat untuk Posting Soal Koruptor

Apakah memang benar semua orang di Indonesia punya mental KKN? Terutama mereka yang pekerjaannya digaji dengan uang hasil pajak. Uang hasil kerjanya orang-orang yang benar benar bekerja membanting tulang dan mengeluarkan keringat. Sementara mereka yang disuruh duduk dan menjadi peserta rapat aja tidak mau melaksanakannya. Para staf di kantor-kantor pemerintahan juga kerap ketahuan membolos kerja. Disuruh kerja malah main game di komputernya atau malah buka facebook. Haha... (anggap saja ketawa saya seperti ketawanya Pak Arswendo di acara Kabar ++nya TVone)
Sebenarnya tidak, tidak semua orang punya mental rendah dan menjijikkan seperti itu, hanya mereka-mereka saja. Orang-orang tertentu itu. Namun rakyat sepertinya sudah punya mindset sendiri untu orang orang itu.
Kalau tidak percaya, lihat saja jawaban dari pertanyaan iseng saya di Y!A yang ini.
Mbah Google kalo ditanya soal "Pejabat" langsung ditunjukin berita-berita atau gambar-gambar soal pejabat yang korup atau anggota DPR yang malah tidur ketika disuruh ikut rapat.

Lubang Jalanan, Korupsi dan Narsisme

Hari ini dimulai dengan hujan sejak bangun untuk makan sahur tadi. Mendung masih saja menyelimuti bumi yang seakan menyelimuti langit ketika saya harus mengantar adik saya ke Pekalongan. Kecepatan rata rata saya mungkin hanya 24 km/jam karena harus ekstra hati-hati menghindari lubang jalanan sepanjang jalan melewati Kecamatan Warungasem. Terbukti sampai di Pekalongan setengah jam kemudian.
Mengapa masih saja jalanan itu penuh dengan lubang? Sungguh sangat merugikan, para pekerja sudah terlambat kerja, produktifitas menurun, kendaraan jadi lebih sering masuk bengkel dan ganti suku cadang. Belum lagi kecelakaan yang terjadi karena para pengendara kerap memilih jalan dan kurang memperhatikan pengendara lain yang juga memilih jalan yang sama.
Dari dulu waktu saya masih sekolah di Tsanawiyah, keadaannya selalu saja begini. Bahkan dulu sempat dilakukan aksi blokir massal dengan cara menebang pohon di pinggir jalan sehingga batangnya melintang. Mendirikan gubug di tengah jalan. Menanami jalan dengan pohon pisang. Bahkan ada yang menanami lubang tersebut dengan nisan, lengkap dengan gundukan tanah bak kuburan. Parah.
Kalau ada yang lagi ngeluh soal jalanan ini, pasti ujung-ujungnya pemerintah ikut terlibat di bibir rakyat. Dapat dipastikan bahwa setelah perbaikan, 6 bulan saja sudah rusak lagi. Korupsi. Apa lagi. Itulah yang ada di pikiran kami, yang lewat setiap hari. Karena korupsi, jalanan dibuat dengan kualitas seadanya supaya kelak rusak kembali, jadi bisa untuk langganan pekerjaan para pemborong. Pikiran seperti itu berkecamuk di otak kami.
Padahal di sebuah daerah di Jerman (Niederzimmern, dekat Leipzig), lubang jalanan dapat dibelli dengan harga yang mahal. Para pembeli membeli lubang tersebut untuk ditambal dengan bahan yang tahan lama. Kemudian nama sang pembeli di torehkan seperti di Wallstreet. Bahkan apabila tambalan tersebut rusak, pembeli dapat mengajukan klaim karena ada garansinya. Mungkin itu adalah salah satu bentuk narsisme yang menguntungkan. Masalah kerusakan jalan teratasi, bahkan ditambal dengan bahan yang berkualitas.
Tapi jangan bayangkan lubang jalanan dijual disini, paling nanti uangnya juga dikorupsi, haha...

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme